Rahasia Rantai Pasok Modern: DDMRP

Di tengah ketidakpastian pasar yang makin meningkat, metode perencanaan kebutuhan material (Material Requirements Planning atau MRP) konvensional seringkali dianggap kurang responsif. Muncullah DDMRP (Demand Driven Material Requirements Planning), sebuah pendekatan baru yang menjanjikan solusi yang lebih adaptif dan efisien. Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu DDMRP, perbedaannya dengan MRP konvensional, serta kelebihan dan kekurangannya

school 3592121 1280
Foto oleh Gabor Adonyl

Apa itu DDMRP?

DDMRP adalah sebuah metodologi perencanaan dan eksekusi rantai pasok yang dirancang untuk mengatasi volatilitas permintaan modern. Berbeda dengan MRP konvensional yang berfokus pada perkiraan (forecast) untuk menentukan kebutuhan material, DDMRP berpusat pada sinyal permintaan aktual (actual demand). DDMRP menggunakan strategi decoupling point atau titik pemisah, yang bertindak sebagai buffer inventori strategis. Buffer ini diposisikan pada lokasi kritis dalam rantai pasok untuk menyerap variabilitas permintaan dan pasokan, memastikan ketersediaan material tanpa harus menimbun inventori berlebihan.

Berikut perbandingan MRP konvensional dengan DDMRP

Aspek

Fokus Utama

Kalkulasi

Pengelolaan Inventori

Respon terhadap Variabilitas

MRP

Perkembangan (Forecast)

Terpusat pada Bill Of Material (BOM) dan Master Production Schedule

Push-based: Inventori didorong berdasarkan jadwal produksi

Cenderung lambat, memerlukan penyesuaian manual yang kompleks

DDMRP

Permintaan Aktual (Actual Demand)

Berbasis Titik Pemisah dan Sinyal Permintaan

Pull-based: Inventori ditarik berdasarkan permintaan

Cepat dan adaptif. Penyangga inventori menyerap fluktuasi

Enam Komponen DDMRP

Decoupling Points

Komponen pertama adalah Titik Pemisah (Decoupling Points). Titik-titik pemisah ini berfungsi sebagai dinding api (firewall) rantai pasok, baik untuk distorsi sinyal permintaan maupun untuk menjaga keberlanjutan pasokan, dalam proses pembuatan dan eksekusi pesanan pasokan.

Pemilihan titik pemisah merupakan keputusan strategis karena akan menentukan waktu tunggu pelanggan (customer lead time) dan investasi inventori. DDMRP menggunakan enam kriteria untuk menentukan di mana titik-titik pemisah ditempatkan dalam suatu lingkungan.

clutch 4888550 1280
Foto oleh Marcel
motorcycle 4152472 1280
Foto di Pixabay
Buffer Profiles & Levels

Penyangga (buffer) harus diukur dengan cara yang secara wajar dapat menjamin titik tersebut tetap terpisah (decoupled). Dalam DDMRP, setiap item yang terpisah (decoupled item) mempunyai profil penyangga (buffer profile) masing-masing.

Profil penyangga adalah sekumpulan pengaturan yang diterapkan pada sekelompok item yang memiliki atribut serupa, termasuk waktu tunggu (lead time), tingkat struktur produk (product structure tier), dan kerentanan terhadap variabilitas pasokan dan/atau permintaan. Profil penyangga mempermudah pengelolaan Decoupled Items dalam jumlah besar di seluruh organisasi.

Dynamic Buffer Adjustments

Besaran penyangga di setiap barang pada titik pemisah (decoupling items) bisa disesuaikan secara dinamis. Penyesuaiannya sepanjang waktu tergantung kepada sifat-sifat barang tersebut; seperti tingkat permintaan, waktu tunggu (lead time), dan perubahan profil. Perubahan profil yang dimaksud misalnya ada kejadian khusus yang akan datang seperti promosi atau kegiatan musiman (misalnya Hari Raya).

watch 9007721 1280
Foto oleh weliocruz5 via Pixabay
startup 593341 1280
Foto oleh StartupStockPhoto
Demand Driven Planning

Komponen keemapt dari DDMRP adalah aktivitas operasional yang menerapkan aturan unik yang ditetapkan dalam model DDRMP, dalam pembuatan pesanan pasokan (supply order). Aturan pembuatan pesanan pasokan ini sering disebut sebagai Persamaan Aliran Bersih (Net Flow Equation, NFE). NFE ini biasanya diterapkan setidaknya sekali sehari pada semua titik pemisah (decoupling points).

Visible and Collaborative Execution

Dalam DDMRP, ada pemisahan yang jelas antara perencanaan dan eksekusi. Fase perencanaan DDMRP berakhir saat rekomendasi pesanan disetujui dan diubah menjadi penerimaan terjadwal (scheduled receipt). Eksekusi DDMRP mengelola open order terhadap penerimaan terjadwal yang dibuat oleh mesin perencanaan DDMRP, melalui dua kategori peringatan:Buffer Status Alerts dan Synchronization Alerts. Peringatan-peringatan ini dirancang untuk menunjukkan sumbatan pada aliran yang akan memengaruhi komitmen kepada pelanggan atau membahayakan integritas penyangga.

team spirit 2447163 1280
Foto oleh Anemone123
dvi 2202210 1280
Foto oleh WikiMediaImage
Tactical Adaptation

Komponen terakhir dari DDMRP adalah mengelola penyesuaian atau adaptasi model DDMRP, yang didefinisikan oleh tiga komponen pertama tadi (yaitu Pengaturan Master (Master Settings). Siklus adaptasi ini didorong oleh kinerja masa lalu dan aktivitas masa depan yang diharapkan atau direncanakan.



Kelebihan dan Kekurangan DDMRP

Kelebihan
  • Responsif Terhadap Perubahan: DDMRP sangat efektif dalam menghadapi fluktuasi permintaan yang tidak terduga, mengurangi risiko kehabisan stok (stock-outs) dan kelebihan inventori.
  • Pengurangan Inventori: Dengan menempatkan buffer secara strategis, perusahaan dapat mengurangi total inventori tanpa mengorbankan tingkat layanan pelanggan.
  • Visibilitas Rantai Pasok yang Lebih Baik: DDMRP memberikan gambaran visual yang jelas tentang status inventori dan kebutuhan material.
  • Mengurangi Efek Bullwhip: Dengan menghilangkan ketergantungan pada perkiraan di setiap level, DDMRP secara signifikan mengurangi efek bullwhip, di mana fluktuasi kecil di tingkat permintaan konsumen memicu osilasi yang makin besar di sepanjang rantai pasok.
Kekurangan
  • Kompleksitas Implementasi: Mengubah sistem perencanaan yang sudah ada menjadi DDMRP memerlukan perubahan besar dalam budaya, proses, dan sistem IT, yang bisa memakan waktu dan biaya.
  • Kurang Cocok untuk Produk Khusus: DDMRP kurang ideal untuk produk yang sangat spesifik atau dibuat sesuai pesanan (make-to-order) karena produk tersebut tidak memiliki pola permintaan yang berulang.
  • Ketergantungan Data yang Akurat: Efektivitas DDMRP sangat bergantung pada akurasi data konsumsi dan waktu tunggu (lead time).

Karena kelebihan dan kekurangan tersebut, maka tidak semua jenis usaha dapat secara optimal menerapkan DDMRP. Sektor usaha yang paling cocok menggunakan DDMRP biasanya mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  • Produksi Diskrit dan Produk Massal: Perusahaan yang memproduksi barang-barang dengan volume tinggi dan beragam varian, seperti industri otomotif, elektronik, dan barang konsumsi (FMCG).
  • Rantai Pasok Kompleks: Bisnis dengan banyak pemasok dan distributor di berbagai lokasi
  • Permintaan yang Volatil: Industri yang permintaannya sering tidak stabil, seperti fashion atau barang-barang musiman.

Sebaliknya, sektor bisnis yang kurang cocok menerapkan DDMRP adalah:

  • Produksi Make-to-Order: Bisnis yang memproduksi barang unik sesuai pesanan, di mana setiap produk memiliki BOM yang unik dan tidak ada pola permintaan berulang.
  • Produk dengan Waktu Tunggu Sangat Panjang: Jika waktu tunggu (lead time) terlalu lama dan tidak stabil, sulit untuk menjaga buffer inventori yang optimal.
  • Biaya Material Sangat Tinggi: DDMRP memang mengurangi inventori, tetapi buffer yang diperlukan bisa jadi sangat mahal jika biaya per unit materialnya sangat tinggi, seperti pada industri produk mewah.



Hibrida DDMRP-MRP

Walaupun DDMRP dan MRP konvensional berbeda sifat dan karakternya, namun sejumlah perusahaan menggabungkan dua metoda ini dalam operasional bisnisnya. Strategi ini memanfaatkan kekuatan terbaik dari kedua metodologi untuk mengoptimalkan kinerja rantai pasok secara keseluruhan. Pada umumnya , strategi hibrida ini dilakukan dengan salah satu atau gabungan dari alasan berikut:

  • Karakter permintaan berbeda untuk kategori yang berbeda. Misalnya suatu industri menemukan bahwa permintaan atas Produk Jadi (Finished Goods) ternyata lebih stabil dan dapat diprediksi. Oleh karena itu, perkiraan (forecast) dan MRP konvensional mungkin sudah cukup efektif untuk merencanakan produksi dan memastikan tingkat layanan yang tinggi. Sebaliknya, Bahan Baku sering menghadapi variabilitas permintaan yang tinggi. Sinyal permintaan untuk bahan baku bisa berfluktuasi drastis karena gabungan permintaan dari berbagai produk jadi. Oleh karena itu perusahaan menggunakan DDMRP untuk Bahan Baku.
  • Optimalisasi Biaya: DDMRP memerlukan buffer inventori strategis. Untuk komponen atau bahan baku yang mahal, perusahaan mungkin tidak ingin menyimpan inventori terlalu banyak. Mereka mungkin lebih memilih menggunakan MRP konvensional untuk mengelola komponen-komponen ini dengan lebih ketat.
  • Transisi Bertahap: Implementasi penuh DDMRP bisa menjadi proyek yang kompleks dan mahal. Pendekatan hibrida memungkinkan perusahaan untuk mengadopsi DDMRP secara bertahap, dimulai dari bagian-bagian rantai pasok yang paling bermasalah.



Referensi Lebih Lanjut

Setelah memahami DDMRP sekilas dengan membaca artikel ini, berikut adalah referensi lanjutannya:

  • Informasi lebih lanjut, daftar pustaka, studi kasus dapat diakses di situs Demand Driven Institute ini
  • Bagaimana pengelolaan DDMRP di Odoo ERP dapat dibaca di artikel Odoo DDMRP ini.